Dilema: ITB atau ITS (2)

Lanjutan dari bagian pertama

Bandung (again)

Saya menginap di rumah tante saya di daerah holis sembari mencari kos di deket Dago. Semua pada kasih selamat karena saya diterima di ITB, tetapi kenapa dalam hati ini berkecamuk. Teman-teman saya di ITS pun juga mengirim pesan selamat. Jujur ada semacam pride dan rasa percaya diri ketika dinyatakan diterima meskipun FTSL ini pilihan kedua saya setelah FTMD (karena saat itu sangat ingin mendalami penerbangan).

Saya bertemu dengan dua teman bimbel saya yang diterima di FTSL dan STEI. Mereka sangat senang karena juga lebih dekat dengan keluarga (asal Jakarta & Bandung). Sementara, saya justru makin bingung, sebenernya apa yang bikin ga terlalu sreg. Saya juga seakan denial terhadap diri saya karena realistis mau jadi apa kalau ngelanjutin kuliah di ITS dengan IPK segitu, apalagi semakin hari persaingan makin sengit belum lagi perkara organisasi, prestasi, cukup suram, saya rasa.

Matrikulasi

Matrikulasi merupakan program yang diselenggarakan untuk mahasiswa baru ITB. Program tersebut mengacu pada buku Seventh Habits of Highly Effective People karangan Stephen Covey. Inti dari program ini ialah untuk menginspirasi dan memotivasi para mahasiswa dalam pengembangan diri. Jujur saya takjub bagaimana aktif-nya peserta. Mereka berani speak-up dan adu argumen dengan trainer (dosen-dosen). Public speaking peserta sangat bagus, seketika itu down (Bahkan untuk berbicara pun saya nervous, fyuuh). Matrikulasi berlangsung selama 1-2 minggu. Cukup tepat pemberian materi dilakukan kepada mahasiswa baru ini, dikarenakan para mahasiswa baru tersebut sedang semangat-semangatnya sebelum diracuni oleh lingkungan sekitar dan pergaulan.

Cisitu

Saya numpang sembari mencari kos di tempat teman saya di Cisitu baru selama sisa matrikulasi dan OSKM. Hampir sebulan, hari demi hari saya lalui dengan kegelisahan. Akhirnya pada suatu malam, saat itu saya bersama tante dan mama saya pergi ke psikolog untuk memeriksa potensi minat dan bakat saya. Kurang lebih hampir 3 jam saya berkonsultasi ke psikolog tersebut. Dan saat itu saya tidak denial terhadap diri saya, dikupas habis. Akhirnya OSKM selesai, dan saya kembali ke Surabaya karena libur lebaran sebelum memasuki perkuliahan semester 1 di ITB. Saat itu pun saya masih belum bisa memutuskan jalan mana yang akan saya tempuh.

Semeter 3 di ITS

Di Surabaya, saya merasa gelisah dan takut. Ini merupakan keputusan yang besar dalam hidup saya. There’s no turning back. Saya menghadap dosen wali saya. Begitu dilihat bagaimana nilai IPK saya. Beliau bertanya mengapa kok performa saya turun, ke depan di jurusan mata kuliah nya bakal lebih susah. Mau jadi apa ke depan? Saat itu saya tertunduk. Kembali kuliah di ITS sangat tidak realistis!

Berbagai macam permasalahan terjadi di keluarga saya, dengan berat hati saya harus meninggalkan ITB dan kembali ke ITS. Tentu bukan keputusan yang mudah, bisa dibilang saya cukup lelah mental. Saat tersebut ialah salah satu momen terendah dalam hidup saya. Hidup saya seperti tidak mempunyai harapan, sesaat saja merasakan euforia menjadi mahasiswa ITB kemudian harus menghadapi realita. Kembali ke ITS, dengan IPK yang rendah, kehilangan motivasi, melepas ITB, belum lagi komentar-komentar negatif dari sekitar. Saya hanya bisa berdoa dan berseru kepada sang Pencipta,”If You are real, Could I have the future?” Good bye ITB

Please share it:

Leave a Reply

Close Menu