Dilema: ITB atau ITS (1)

Teringat pada momen sekitar 7 tahun lalu, kala itu saya mengalami dilema yaitu untuk melanjutkan kuliah di ITS atau pindah ke ITB. Disini saya akan menceritakan bagaimana cerita saya bisa masuk ITB dan berbagai macam dilemanya. Here’s the story begin ;).

Surabaya, 2010

Bila ditanya mau kuliah dimana pasti saya akan menjawab di ITB. Sebenarnya saat itu saya belum mengenal diri saya, potensi, ataupun minat. Mungkin di benak saya masuk ITB sama dengan garansi untuk masa depan yang lebih baik. Siapa yang tidak tau Ir. Soekarno dan tokoh-tokoh penting negeri ini lainnya, banyak yang berasal dari kampus Ganesha. Tak heran bila masuk ITB merupakan dambaan bagi siswa SMA Indonesia termasuk saya.

Pada masa saya, ada 3 jalur untuk masuk ITB yaitu USM (Ujian Saringan Masuk) daerah, USM terpusat, dan SNMPTN tulis. Di kala itu, saya ingin mencoba setiap kesempatannya. Alhasil, saya mengikuti les khusus untuk USM di lembaga bimbingan belajar di Surabaya. Soal-soal yang diberikan cukup susah menurut saya apalagi IPA-Terpadu nya sama seperti soal-soal alien, saya akui saya lemah di bidang fisika, saya juga kurang serius dalam belajar sewaktu kelas 9 dan 10. Bagi anak SMA seperti saya tidak remidi dalam suatu mata pelajaran juga sudah lebih dari cukup. Saya mulai pesimis tentang USM ini.

SNMPTN Undangan 2011

Terjadi perombakan yang cukup besar dalam sistem penerimaan mahasiswa program sarjana yaitu USM dihapus. Jujur saja, saya cukup senang karena masih ada waktu untuk belajar (pelaksanaan USM-ITB selalu lebih dulu). Ternyata ada mekanisme baru dalam sistem penerimaan mahasiswa program sarjana di Indonesia yaitu SNMPTN Undangan yang menggunakan nilai rapor. Seandainya saya tahu bakal ada SNMPTN Undangan, mungkin saya akan lebih serius dalam belajar dan mencari prestasi. Entah mengapa percobaan selalu dilakukan di angkatan saya. Dulu ketika masuk SMP, pertama kalinya ada UKM (Uji Kendali Mutu) yaitu Ujian tersendiri untuk masuk SMP Negeri di Surabaya. Ketika masuk SMA pun, pertama kalinya IPA dimasukkan dalam Ujian Nasional. Sekarang? 60% kuota untuk masuk ITB berada di SNMPTN Undangan, sedangkan 40%-nya jalur SNMPTN Tulis

Di sekolah saya, terdapat 2 kategori kelas yaitu SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) dan reguler. Yang pasti, standar kelulusan nilai rapor anak SBI pasti lebih tinggi dibandingkan anak reguler. Belum lagi saingan dengan sekolah-sekolah lainnya. Entahlah saya cukup pesimis dan realistis. Nothing to lose saja. Singkat cerita, seperti yang diprediksi dari awal saya gagal masuk ITB pada tahap ini.

SNMPTN Tulis 2011

Jarak pengumuman antara SNMPTN Undangan dan pelaksanaan SNMPTN tulis ialah 2 minggu. Saat itu, saya sangat kesulitan di mata pelajaran Fisika. Saya les privat intensif di sisa waktu yang ada untuk memperdalam kemampuan saya. Ujian SNMPTN dimulai dan berlangsung 2 hari. Pilihan saya saat itu ialah FTSL (Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan) ITB dan Teknik Mesin ITS. Do the best, Let God do the rest!

Sedikit keanehan, sebelum pengumuman SNMPTN tulis, saya sempat bermimpi bahwa saya tahun depan diterima di FTSL ITB. Ternyata memang benar, saya belum berjodoh dengan ITB, tetapi saya masih bersyukur dapat diterima di Teknik Mesin ITS. Pada momen ini, saya sungguh menyesal mengapa saya tidak belajar lebih serius dari semula. Kata mama saya,” Jalani aja dulu, kalau memang masih penasaran ya dicoba lagi tahun depan.”

Mahasiswa Baru di ITS 2011 

Menjadi mahasiswa baru di ITS merupakan awal yang cukup melelahkan karena proses pengkaderan yang membuat saya selalu mengeluh. Ada beberapa hal yang membuat saya merasa tidak betah kuliah dan yang paling terbesar ialah rasa penasaran saya gagal di ITB. Kuliah satu semester saya jalani, proses pengkaderan selesai, UAS selesai, Saatnya menunggu nilai IPK. Gara-gara ada satu mata kuliah yang mendapat nilai BC, IPK saya tidak terlalu bagus.

Bimbingan Konseling SMA saya mempunyai program sosialisasi tentang perkuliahan bagi kelas 12. Jadi SMAN 5 Surabaya menadatangkan alumni-alumninya yang baru lulus untuk sosialisasi ke adik kelas tentang jurusan dan universitas. Kala itu saya, bertemu dengan teman angkatan saya yang kuliah di ITB. Dan jujur saja, saya merasa minder dan kurang percaya diri. Apalagi IPK mereka super-super bahkan ada yang IPK-nya 4,00! Semakin saya ingin ikut ujian SNMPTN lagi. Saya ingin mencoba diri saya, apakah ketika saya belajar dengan serius, saya mampu atau setidaknya saya tidak penasaran dan tidak menyesal di kemudian hari.

Semester 2 di ITS

Ujian tengah semester 2 di ITS telah saya jalani, puji Tuhan nilai saya cukup bagus. Artinya semakin dekat dengan pelaksanaan SNMPTN Tulis. Saya ikut bimbingan belajar SNMPTN untuk kelas alumni, ternyata bukan saya saja yang penasaran. Banyak mahasiswa-mahasiswi tingkat 1 yang berencana ikut SNMPTN ulang,  ada yang ingin coba ITB, UI, UGM, ITS, Kedokteran dan lain-lain. Kala itu saya bersama 4 orang teman dekat saya yang kuliah di ITS yang berasal dari Jakarta dan Bandung yang ingin mencoba ITB lagi.

Beberapa kali try out, nilai saya melewati passing grade untuk FTMD ITB. Saya cukup memforsir diri, saya ingat bagaimana saya latihan soal SNMPTN hingga sakit selama 2 hari. Bagaimana kuliah saya di ITS? saya jarang masuk semenjak UTS semester 2 karena fokus saya pada ITB. Saat itu saya merasa benar-benar berjuang, belajar dengan serius. Saya tidak mau merasakan penyesalan. Setidaknya apabila saya gagal, saya telah melakukan yang terbaik.

Bandung for The First Time

Pertama kalinya naik kereta api, pertama kalinya juga menginjakkan kaki di kota Bandung. Ditemani sang ibunda tercinta, saya mencari kos harian untuk ujian SNMPTN Tulis. Ujian SNMPTN Tulis berlangsung 2 hari. Pilihan saya ialah FTMD (Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara) dan FTSL ITB. Saya merasa lebih baik dibandingkan setahun sebelumnya, lebih banyak soal yang terjawab.

Sebelum saya ke Surabaya, saya mendapat mimpi yang cukup buruk. Saya bermimpi di taman mesin, ketika itu saya memberikan ospek kepada adik kelas saya. Sungguh saya menjadi tidak karuan dan overthinking, apalagi saya pesimis dengan nilai saya di ITS, mengingat saya jarang masuk.

NASAKOM (Nasib Satu Koma)

Sekembalinya saya ke Surabaya, saya mengikuti UAS di ITS. Meskipun saya pesimis dengan nilai dan absensi saya yang lain setidaknya saya mengoptimalkan apa yang ada. Saat itu ujian statika yang tersisa. Ketika saya melihat soal ujian, I have no idea, saya tidak mengerti sama sekali hanya pasrah dan mengerjakan sebisanya.

Sebulan kemudian, nilai mata kuliah keluar di website. Ketika saya melihat website akademik, saya melihat berbagai macam huruf ada yang terpampang mulai dari E, BC, C, dan B, IP saya 1.75. Nasakom (Nasib satu koma), Saya tidak melihat masa depan di sini apalagi untuk mendapatkan kerja harus IPK diatas 3.

Finally, ITB 

Pengumuman SNMPTN Tulis, saya cukup deg-degan dan campur aduk. Saya tidak berani untuk membuka pengumuman. Ditemani mama di warnet, akhirnya saya memberanikan diri untuk melihat pengumuman. Dan Puji Tuhan saya diterima di FTSL ITB. Puji Tuhan, kerja keras terbayarkan. Tetapi entah mengapa ada perasaan yang sedikit mengganjal. Saya tidak tahu itu apa. Setidaknya saya bisa tidur dengan tenang di malam itu. Bandung, I’m coming. to be continued….

Please share it:

Leave a Reply

Close Menu